• Jelajahi

    Copyright © Swarasultra.com
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan 1

    Iklan 2

    Korupsi

    Komitmen Green Energy dan Keberlanjutan, PLN- Ceria Laksanakan Perjanjian REC dan ITC

    Redaksi Swarasultra.com
    Senin, 20 Mei 2024, 23.19.00 WITA Last Updated 2024-05-20T15:19:22Z

    PLN dan Ceria Group menandatangani perjanjian pembelian Renewable Energy Certificate, dan  Perjanjian Pinjam Pakai Lahan untuk Pembangkit Listrik Inter Temporal Capacity. (Foto : Istimewa)
    Swarasultra.com, Jakarta - Ceria Group dan PT PLN  Persero menandatangani Perjanjian Pembelian Renewable Energy Certificate (REC) dan  Perjanjian Pinjam Pakai Lahan untuk Pembangkit Listrik Inter Temporal Capacity (ITC) pada Senin (20/5/2024) di Kantor Pusat PLN, Jakarta.

    Untuk diketahui Renewable Energy Certificate (REC) merupakan sertifikat energi hijau atau sertifikat energi terbarukan yang dapat digunakan untuk mengklaim konsumsi listrik dari sumber energi baru terbarukan, seperti surya, angin, atau air.

    Ceria Group sendiri merupakan salah satu produsen utama bahan baterai kendaraan listrik ramah lingkungan di  Indonesia, dengan Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan fasilitas pemurnian, yang berbasis di Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Indonesia.
     
    Fokus utama Ceria sejak memulai produksi nikel adalah untuk mendukung visi Presiden Republik  Indonesia Joko Widodo, agar Indonesia memiliki pemimpin lokal dalam membangun rantai pasokan baterai kendaraan listrik ramah lingkungan guna memasok permintaan kendaraan listrik  global yang terus meningkat. Ceria masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), Objek Vital  Nasional (Obvitnas), dan Daftar Proyek Prioritas Investasi Swasta (DPPIS) pada Rencana Kerja  Pemerintah Republik Indonesia. Kerjasama dan kolaborasi antara Ceria dan PLN sebagai BUMN  sangat penting untuk mendukung hilirisasi industri di Indonesia.

    Renewable Energy Certificate (REC) atau Sertifikat Energi Terbarukan merupakan sertifikat yang  diterbitkan oleh PLN dengan pengakuan internasional melalui APX, Inc. berbasis di Amerika  Serikat, sebagai operator dari Tradable Instrument for Global Renewables (TIGRs), yang menyatakan bahwa listrik yang digunakan Ceria berasal dari sumber energi terbarukan, dengan setiap 1 unit sertifikat REC mewakili konsumsi energi listrik 1 Megawatt-hour (MWh).  

    Ceria menjadi pionir pemakai REC di industri pemurnian nikel yang terintegrasi (mine mouth smelter) dan langkah ini merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam mendukung industri nikel  yang berkelanjutan untuk memastikan bahwa setiap tahap produksi nikel Ceria didukung oleh  energi yang ramah lingkungan, dengan sumber energi listrik sebagian besar berasal dari  pembangkit listrik tenaga air, angin, mesin gas dan lainnya. REC juga merupakan langkah PLN  dalam mendukung penggunaan energi bersih dan terbarukan, sejalan dengan upaya pemerintah  
    Indonesia dalam mengurangi emisi karbon.  

    Derian Sakmiwata, selaku CEO Ceria Group menjelaskan bahwa perjanjian REC dan ITC antara Ceria dan PLN dilakukan untuk memastikan komitmen Ceria dalam memproduksi green nickel  product dengan proses pyrometallurgy melalui teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF)  yang menghasilkan Ferronickel dengan kadar nikel sebesar 22%, Nickel Matte Converter menghasilkan kadar nikel yang lebih tinggi diatas 73% dan proses hydrometallurgy melalui teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).  Semua produk Ceria melalui proses pemurnian lanjutan, sebagai bahan baku Battery Precursor ke  pasar Electriv Vehicle (EV) Battery.  

    Derian mengatakan, Sertifikat REC juga memastikan produk nikel Ceria memiliki jejak karbon  minimal (green footprint) yang mendukung aspek keberlanjutan, bagian dari kebijakan Environmental, Social and Governance (ESG) perusahaan. "Penggunaan sertifikat REC oleh Ceria  akan naik secara bertahap dari sekitar 80.000 Unit di tahun 2024 menjadi 2,2 juta unit di tahun  
    2030," kata Dengan.

    Dalam kesempatan itu juga dilakukan Amendemen Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik  (PJBTL) antara PLN dan Ceria dengan total kapasitas 414 MVA atau sekitar 352 MW, merupakan  penyempurnaan terkait aspek teknis dan administratif dari PJBTL yang telah ditandatangani di  tahun 2018. Pasokan listrik akan mulai dialirkan secara bertahap mulai pertengahan tahun 2024.  

    PLN akan menyediakan tambahan daya listrik dengan menggunakan Barge Mounted Power Plant (BMPP) atau Pembangkit Listrik Terapung berbahan bakar gas dengan kapasitas 2 x 60 MW  dengan fasilitas jetty dan fasilitas pendukung di area Ceria dengan target akan dibangun oleh  afiliasi PT PLN, Indonesia Power (IP). Target pembangunan jetty, tangki LNG dan fasilitas  regasifikasi LNG di area Ceria akan dilakukan oleh afiliasi PT PLN, Energi Primer Indonesia  (EPI).

    Derian menambahkan, BMPP berbahan bakar gas akan terhubung dengan Gardu Induk  Smelter PLN Kolaka untuk menjaga kehandalan listrik smelter Ceria. Ceria juga berkomitmen untuk mendukung penuh PLN dalam penyediaan lahan pembangunan infrastruktur Inter Temporal Capacity di area Ceria dengan rencana pembangunan Pembangkit  Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) 200 MW oleh PLN Batam, dan target kedepannya  penambahan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) 200 MW.

    Dukungan penuh Ceria kepada PLN untuk kemaslahatan masyarakat terutama di area Sulawesi Selatan,  Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat (Sulselrabar) serta menyukseskan program hilirisasi industri pemerintah dengan ikut mendukung program Net Zero Emission pada tahun 2050 seperti yang dicanangkan  Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.  Penggunaan listrik dari PLN yang bersumber dari green energy, menunjukkan bahwa tidak terdapat carbon foot print pembangkit listrik dari batubara dalam proses produksi smelter Ceria,  sehingga produk olahan nikel yang dihasilkan akan memiliki emisi karbon yang sangat rendah  dibandingkan produk olahan nikel lainnya yang beroperasi menggunakan listrik dari PLTU.

    Dengan Green Energy Footprint, Tata Kelola Pertambangan yang baik atau Good Mining Practice  dan kerangka ESG yang kuat, Ceria sebagai perusahaan pertambangan dan pemurnian nikel  Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mempersiapkan business roadmap sebagai pemain  global dalam rantai pasokan ekosistem Electric Vehicle (EV). Sebagai pemain global, Ceria telah  mendapatkan pengakuan khusus dalam kategori Inflation Reduction Act (IRA) Compliant sebagai  pelaku industri yang berkomitmen pada praktik pertambangan yang berkelanjutan serta terbuka  dalam hal partnership secara profesional dengan negara manapun di level global.  

    “Dengan dukungan PLN, Ceria siap berada di baris terdepan dalam transformasi industri nikel  menuju masa depan yang berkelanjutan. Langkah ini menunjukkan komitmen Ceria sebagai  pelopor dalam produksi green nickel, yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan, masyarakat dan bangsa," ujarnya. (Red)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini